iinyumiyanti

pikiran dan tulisan saya

iinyumiyanti header image 1

Berani Mati untuk Libanon (3) Tegas Tanpa Menjadi Garang

December 30th, 2008 · Uncategorized

Sore hari, beberapa polisi mendadak sibuk hilir mudik di sebuah perkantoran di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kantor itu adalah kantor Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Siang hari sebelumnya, pada Selasa 8 Agustus itu, organisasi yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir itu mengumumkan akan mengirim 500 relawan jihad ke Libanon.

Tidak aneh jika sore itu, kantor di Jalan Pahlawan No 2, Kampung Baru Sukabumi, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, itu berkali-kali didatangi polisi. Kepada Ketua Departemen Dakwah MMI wilayah DKI Jakarta Nanang Ainurrofiq, polisi menanyakan tetek bengek tentang pengiriman jihad ke Libanon seperti jumlah pendaftar, kapan berangkat, persiapan dan lain-lainnya.

Hingga kini sedikitnya 800 orang diklaim siap berangkat ke Libanon. MMI sendiri mengaku 500 Laksar MMI tinggal menunggu visa. Terhadap aksi jihad ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempersilakan saja dengan alasan merupakan hak umat Islam untuk berjihad membela Libanon.

Pemerintah sendiri sejauh ini belum mengeluarkan larangan tegas bagi warganya untuk berjihad ke Libanon. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seperti disampaikan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono hanya mengimbau warga Indonesia agar tidak berperang ke Libanon. Solidaritas untuk bangsa yang diserang Israel itu cukup disampaikan melalui demo-demo yang digelar di tanah air.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyatakan, pemerintah tidak bisa melarang warganya yang tidak dicekal untuk pergi ke luar negeri termasuk ke Libanon. Namun Menlu mengingatkan agar semua elemen termasuk FPI dan MMI agar tidak gegabah mengirimkan mujahidnya ke Libanon.

Menurut Menlu, yang sangat dibutuhkan Libanon adalah bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan dan makanan. “Bukan dalam bentuk kemampuan melawan dengan kekuatan senjata,” tandas Hassan.

Sikap keras justru ditunjukkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Bagi Sutanto, pengiriman pasukan jihad bisa memperkeruh situasi. Polisi juga meragukan niatan jihad tersebut dan memilih bersikap waspada. Terlebih, relawan di Pontianak, Kalimantan Barat, menamakan diri dengan Pasukan Bom Jihad dan akan menyerang kepentingan negara yang mendukung Israel.

Menghadapi Posko Jihad itu, pemerintah memang bagus bersikap tegas tapi tidak perlu menjadi garang. Pemerintah tidak perlu membubarkan posko tersebut bila tidak melakukan tindakan anarkis. Membubarkan posko tanpa alasan yang jelas sama saja dengan mencari musuh. “Biarkan saja mereka,” kata pengamat Timur Tengah yang juga mantan Ketua MPR Amien Rais.

Pemerintah cukup mengapresiasi posko itu sebagai bentuk solidaritas dukungan moral untuk Libanon. Jika kemudian para relawan itu nekat berangkat, pemerintah bisa mengeluarkan travel warning. Pemerintah bisa saja memanggil para pemimpin relawan itu untuk dimintai keterangan apa maksud pemberangkatan mujahid itu.

Dalam dialog dengan para pemimpin relawan, pemerintah kemudian menjelaskan konsekuensi hukum atas tindakan itu. “Kalau memang tetap mau ke Libanon, pemerintah berhak untuk menangkap. Karena itu untuk melindungi warga negaranya itu,” kata cendekiawan Muslim Abdurrahman.

Sementara ini, daripada mengurusi jihad ke Libanon yang masih sebatas wacana, pemerintah lebih baik mengatisipasi kemungkinan meluasnya perang Libanon-Israel. Perang itu bisa membuat kondisi Indonesia semakin sulit bila sejumlah negara Timur Tengah seperti Suriah dan Iran ikut terlibat langsung.

Pengamat luar negeri Riza Sihbudi mengingatkan, dengan semakin meluasnya perang, harga BBM akan ikut naik. Kondisi ini jika tidak diantisipasi mau tidak mau akan membuat pemerintah kembali menaikkan harga BBM.

Selain itu, pemerintah harus mengatasipasi gejolak politik dalam negeri yang akan ikut memanas. Dan yang perlu diingat juga, meluasnya perang Israel-Libanon akan mengakibatkan terjadinya eksodus TKI di Timur Tengah. Inilah masalah-masalah sosial yang harus segera dipikirkan pemerintah. (iy)

detikportal, 10 agustus 2006

→ No CommentsTags:

Berani Mati untuk Libanon (2)Bantu Tentara Tuhan dengan Silat

December 30th, 2008 · Uncategorized

Pisau tajam berkilau-kilau. Seorang pria dengan mahir memakainya untuk mencincang sayuran. Yang mengagetkan, sayuran itu bukan diletakkan di atas talenan atau meja dapur. Sayuran itu ditaruh di atas perut seorang manusia. Ajaibnya berkali-kali pisau beraksi, badan si lelaki tak tersayat sedikitpun.

Begitulah salah satu atraksi dalam apel Pasukan Bom Jihad (PBJ) Kalimantan Barat (Kalbar) yang menyatakan siap berangkat ke Libanon. Aksi yang melibatkan 200 orang itu digelar di Taman Alun Kapuas, depan Markas Korem 121/Alam Bhanawanawae, Jalan Rahadi Oesman Pontianak, pekan lalu.

Dalam apel itu, massa mengenakan topeng wajah dari bahan wol warna hitam dan berpakaian serba hitam. Jumlahnya sekitar 200 orang. Selain mencincang sayuran di atas perut, mereka juga pamer kekebalan tubuh dengan memecahkan batu bata di kepala, dada dan perut.

Hingga kini, setidaknya sekitar 800 orang diklaim siap berangkat untuk berperang membela Libanon. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) misalnya mengklaim akan memberangkatkan 500 orang. Sekitar 200 orang dari PBJ dan di Padang 57 orang mendaftar relawan jihad.

Mayoritas dari relawan jihad itu tidak memiliki bekal mengenai perang dan kemiliteran. Dari atraksi yang ditujukkan para relawan, mereka hanya memiliki bekal kekebalan tubuh. Relawan yang akan berangkat itu juga baru berlatih silat dan olah raga.

Abdul Rasyid (28), salah satu relawan jihad dari MMI menuturkan, relawan jihad yang diberangkatkan MMI melalui seleksi yang ketat. Seleksi itu meliputi seleksi fisik dan mental.

Selama menjadi laskar MMI, Rasyid mengaku mendapat teori-teori tentang kemiliteran dan persenjataan. Namun untuk prakteknya, bapak dua anak itu belum pernah menjalaninya. “Baru latihan fisik seperti bela diri,” aku Rasyid.

Pria yang bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang makanan itu juga mengaku tidak mengenal medan perang di Libanon. Namun dengan serba keterbatasan bekal itu, para relawan termasuk Rasyid siap membantu Hizbullah yang tengah melawan agresi Israel.

Agresi militer Israel terhadap Libanon memang dipicu permusuhan negara Yahudi itu dengan Hizbullah. Israel menyerang warga sipil Libanon setelah Hizbullah menyerang dan menangkap dua tentara negara itu.

Sejatinya, permusuhan kelompok perjuangan Islam Libanon yang namanya berarti tentara Tuhan itu, dengan Israel itu sudah lama. Permusuhan terjadi sejak Hizbullah terlibat konflik Israel dengan Palestina.

Hizbullah didirikan pada 1982 ini untuk melakukan perlawanan terhadap pendudukan Israel di selatan Libanon, sepanjang perbatasan dengan Israel. Dalam aksinya melawan Israel, Hizbullah menggunakan senjata-senjata canggih.

Tentara Tuhan ini memiliki roket-roket yang mempunyai daya jangkau jauh untuk menyerang Israel. Persenjataan Israel sendiri dengan dukungan Amerika Serikat (AS) tidak kalah canggih dan modern.

Membandingkan perbekalan relawan dengan persenjataan canggih Israel, relawan Indonesia seperti hanya ingin mencari mati. Munculnya Posko Jihad di Indonesia memang layak untuk diapresiasi sebagai dukungan moral untuk Libanon. Tetapi kalau untuk pengiriman ke Libanon harus dikaji secara bijaksana. “Ya masak dengan silat bisa mengalahkan senjata canggih Israel?” kritik cendekiawan Muslim Abdurrahman.

Relawan yang rata-rata pendidikannya tidak lebih dari SLTA itu, sangat mungkin berlebihan memaknai arti jihad. Kitab suci umat Islam, Al Qur’an memang memerintahkan agar umat Islam berjihad. Namun diberikan dua pilihan untuk berjihad yakni dengan nyawa atau dengan harta. Pilihan ini mengandung pemaknaan jihad harus kontekstual sesuai kondisi obyektif yang ada. Artinya jihad harus realistis dan tidak hanya bermodalkan tekad berani mati.

Daripada mengirim pasukan yang tidak jelas kemampuan dan ketrampilannya, posko jihad lebih baik menggalang bantuan untuk Libanon. Rakyat Libanon kini sangat membutuhkan sumbangan berupa uang, makanan, obat-obatan dibandingkan tambahan orang dengan kemampuan yang tidak jelas.

Untuk jihad nyawa, di Libanon masih mempunyai tentara dan pasukan Hizbullah yang lebih memiliki kemampuan. Selain itu, pasukan bangsa-bangsa Arab yang lokasinya lebih dekat dengan Libanon tentu lebih efektif untuk didatangkan.

Jadi para pemimpin relawan itu tampaknya harus diingatkan, jihad bukan identik dengan kekonyolan. (iy)

detikportal, 10 Agustus 2006

→ 2 CommentsTags:

Berani Mati untuk Libanon (1) Kisah 72 Bidadari Bermata Jeli

December 30th, 2008 · Uncategorized

Ini tulisan tahun 2006. Aku ingat tulisan ini terkait omongan FPI akan kirim mujahid ke Palestina pasca serangan Israel yang menewaskan 300 orang lebih.

…….

Puluhan orang itu hanya terlihat hidung dan matanya. Topeng ala ninja menutupi wajah mereka. Yang jelas mereka adalah laki-laki. Mereka mengenakan baju koko putih, rompi hitam, surban putih dan celana hitam. Salah seorang di antara mereka memperlihatkan buku yang menjadi pegangannya. Darah Syuhada, begitu judul buku itu.

Puluhan laki-laki itu, Selasa 8 Agustus lalu, menyatakan siap berjihad ke Libanon. Pernyataan disampaikan di markas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Jakarta, Jalan Pahlawan, Kompleks Pertambangan, Kebon Jeruk Jakarta.

Salah satu dari puluhan orang itu adalah Awwal (28), pekerja di sebuah sekolah di Jakarta. Pria bersuara tegas ini masih melajang. Berperang melawan Israel di Libanon, bagi Awwal adalah panggilan Tuhannya, Allah. Sebagai muslim dia sangat trenyuh dengan kondisi Libanon yang porak poranda dihajar Israel.

Agresi Israel terhadap Libanon memang telah melukai rasa kemanusiaan dan keadilan. Israel telah melakukan balas dendam terhadap serangan dan penangkapan dua tentaranya oleh Hizbullah secara membabi buta.

Hingga hampir sebulan, serangan Israel yang dimulai sejak 13 Juli itu, menurut pemerintah Libanon, telah menewaskan 1.000 orang. Korban tewas mayoritas adalah warga sipil. Bahkan Israel juga membantai anak-anak yang tak berdosa. Serangan di Qana, dari 54 penduduk sipil yang tewas, 37 orang di antaranya adalah anak-anak.

Siapapun yang mengikuti apalagi menyaksikan berita agresi Israel ini, akan tercabik-cabik hatinya. Terlebih lagi muslim yang selalu mengidentikkan Israel sebagai musuh utama.

Di Indonesia, rasa keprihatinan ini telah mengobarkan solidaritas terhadap Libanon. Tidak hanya demo besar-besaran mengecam Israel dan Amerika Serikat (AS), tapi posko jihad pun bermunculan. Selain MMI di Jakarta, posko jihad juga berdiri di Makassar, Pontianak, dan Pandang.

Posko jihad itu tidak pernah sepi dari pendaftar. Di Pontianak, 160 Aktivis Gerakan Pemuda Islam (GPI) menyatakan siap pergi ke Libanon. Kemudian di Padang, 57 orang sudah mendaftar. MMI sendiri mengklaim akan mengirim 500 relawan jihad ke Libanon.

Para relawan yang mendaftar jihad itu mengaku tidak gentar menghadapi senjata canggih Israel. Mereka siap jiwa dan raga membela saudaranya sesama muslim yang tengah mengalami kezaliman. Bagi muslim, umat Islam di manapun berada adalah saudara yang harus dibela. “Kita sebagai umat Islam melihat keluarganya dibantai ya kita harus melawan dan membela,” kata Awwal.

Menjadi syuhada atau mati syahid dengan berperang membela Islam merupakan cita-cita tertinggi para relawan jihad. Mereka memahami benar Tuhan akan memberikan ganjaran tiada tara bagi orang-orang yang bersedia mati syahid. Selain masuk surga, para syuhada akan mendapat ganjaran mulia lainnya.

Awwal yang masih melajang misalnya, menuturkan, bila ia mati syahid, di surga ia bisa memperistri 72 bidadari. Masuk surga sebagai syahid juga diyakini Fatah (25). Bapak tiga anak ini bahkan tidak mencemaskan kehidupan keluarganya kelak bila ia mati di Libanon.

Fatah percaya Allah akan selalu menolong hambanya yang berjuang membela agama. Keluarga Fatah yang tidak berkecukupan, juga tidak keberatan dengan niatan jihad itu karena sudah diberi pemahaman tentang jihad.

“Ada hadis yang mengatakan bahwa jika kita mati syahid kita bisa memberikan syafaat dengan izin Allah kepada 60 keluarganya. Tentunya yang beriman, itu motivasinya,” kata Fatah.

Ganjaran bagi para syuhada memang dijelaskan dalam hadis riwayat HRS Tirmidzi. Dalam hadis itu, Nabi Muhamamd menjelaskan 7 ganjaran bagi orang yang mati syahid. Pertama, diampuni dosanya sebelum darah menetes ke bumi. Kedua, diselamatkan dari siksa kubur.

Ketiga, diselamatkan dari siksaan sengatan panas matahari di Padang Mahsyar. Keempat, diperlihatkan istananya di surga seperti melihat bintang di langit. Kelima, diberi mahkota syuhada di kepalanya yang harga satu mutiaranya lebih mahal daripada dunia dan seisinya.

Keenam, diizinkan memberi syafaat ampunan kepada 70 anggota keluarganya. Dan ketujuh, dikawinkan dengan 72 bidadari yang bermata jeli.

Awwal, Fatah dan puluhan relawan jihad MMI hingga kini belum mendapat pelatihan pengenalan medan perang di Libanon. Mereka juga belum mendapat latihan militer. Sehari-hari mereka hanya berlatih layaknya atlet seperti joging dan berlari.

Biaya untuk pergi ke Libanon, mereka pun tidak punyai. Namun berbekal keimanan yang kuat, relawan yang mayoritas berpendidikan tidak lebih dari SLTA itu, mantap untuk mati demi Libanon.

Bila visa yang kini diurus MMI ke Kedubes Libanon dan Palestina keluar, mereka akan berangkat. Mengenai segala kekurangan dan keminiman bekal, mereka yakin Allah akan mencukupi dan melengkapinya kemudian.

detikportal, 10 Agustus 20086

→ No CommentsTags:

Penipu Masuk Istana (4) Ada Krisis, Penipu Gentayangan

June 10th, 2008 · sejarah

Presiden boleh saja berganti. Tapi para penipu tetap saja beraksi. Sasaran mereka pun tidak tanggung-tanggung yakni Istana. Presiden Soekarno berhasil diperdaya tukang becak dan pelacur yang mengaku sebagai Raja Idrus dan Ratu Markonah.

Wapres era Soeharto, Adam Malik dibodohi Cut Zahara Fona, perempuan tak lulus SD yang mengaku janin di perutnya bisa mengaji. Era Gus Dur, ada Soewondo, tukang pijat Gus Dur yang berhasil membobol Rp 35 miliar uang Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog).

Zaman Megawati, Menag Said Agil Al-Munawar terkena skandal penggalian situs Batutulis. Zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada geger blue energy. Sang penemu blue energy, Joko Suprapto, yang tidak memiliki latar belakang penelitian yang jelas disebut sebagai penipu oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mengapa Istana bisa dipecundangi para penipu? Apa yang salah? Sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong menganalisa, kasus penipuan dengan korban Istana umumnya muncul saat terjadi krisis.

Raja Idrus dan Ratu Markonah berhasil membodohi sang presiden karena waktu itu Soekarno sedang mengalami krisis untuk membebaskan Irian Barat. Pemerintah Megawati dibelit kasus utang negara yang menumpuk. Pemerintah SBY terjerat krisis energi akibat harga minyak dunia yang terus melonjak.

“Seperti kondisi sekarang ini, harus diwaspadai, sekarang ini pasti akan banyak penipu-penipu yang muncul. Para pemimpin dan rakyat jangan mudah percaya,” kata Anhar Gonggong.

Penipu bisa masuk Istana juga karena aturan protokoler dari zaman Soekarno sampai sekarang masih lemah. Protokoler harus lebih ketat. Ini bukan berarti kemudian tidak mau nerima tamu. Tapi tamu yang diterima harus betul-betul diketahui identitas dan latar belakangnya sehingga presiden betul-betul tahu perlu menerima tamu itu atau tidak.

Istana bisa dibobol penipu juga menunjukkan lemahnya koordinasi antardepartemen. Anhar mengungkapkan, ketika ia menjabat Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tidak pernah dilibatkan saat Menag Said Agil akan menggali situs Batutulis Bogor.

Semestinya, pihak Istana bisa mengecek ke departemen terkait bila ada sesuatu yang penting. Jangan kerja sendiri-sendiri.”Tinggal tanya saja, pasti departemen punya data-data tentang orang terkait. Tapi pemerintah sukanya kerja sendiri-sendiri,” kritik Anhar.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto menyarankan pemerintahan SBY mengadopsi sistem kepresiden Amerika Serikat (AS). Di AS, terdapat kelompok West Wing yakni para ahli yang bertugas menyaring informasi, sebelum masuk ke Ruang Oval (ruangan Presiden AS). “Nah, West Wing itu diisi orang profesional, bukan partisan. Ada baiknya ini dicontoh,” kata Arya.

detikcom 02/06/2008 15:54

→ No CommentsTags:

Penipu Masuk Istana (3) Pemijat Sampai Peneliti pun Nipu

June 10th, 2008 · Uncategorized

Dari masa ke masa, presiden demi presiden berganti, Istana terus saja menjadi sasaran empuk penipu. Setelah memperdayai petinggi negeri ini di masa Soekarno dan Soeharto, penipu juga sukses membodohi pemerintahan selanjutnya.

Sejarahwan Anhar Gonggong menyatakan hanya zaman Presiden Habibie yang tidak berhasil disentuh penipu. Hal ini karena umur pemerintahan Habibie yang pendek. Berganti ke zaman Gus Dur, seorang penipu bernama Soewondo bahkan bisa leluasa masuk Istana. Pasalnya Soewondo adalah tukang pijat Gus Dur.

Soewondo berhasil menipu Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) dan membobol uang yayasan itu hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur namun kemudian bisa ditangkap polisi di salah satu tempat di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonis mantan tukang pijat ini dengan hukuman 3,5 tahun.

Anhar Gonggong menganalisis, Soewondo bisa bebas keluar masuk Istana karena pada zaman Gus Dur, kondisi Istana mirip pesantren. Semua orang bisa dengan bebas keluar masuk Istana untuk bertemu Gus Dur.

“Bagaimana penipu tidak masuk? Saat itu semua bebas masuk. Istana kayak rumah rakyat, kayak pesantren. Dari pagi sampai pagi lagi semua orang bebas keluar masuk hingga kotor sekali. Megawati saja mau masuk Istana ngomel karena kotornya nggak karuan,” tutur Anhar.

Kemudian melalui pergolakan sejarah yang panas, Gus Dur dilengserkan dan digantikan Megawati Soekarnoputri. Lagi-lagi di zaman Mega, skandal penipuan kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya Menteri Agama Said Agil Al-Munawar. Pak Menteri yang bergelar profesor ini memimpin penggalian situs purbakala Batutulis di Bogor. Pak Menteri yakin di situs itu ada harta karun peninggalan Prabu Siliwangi.

Said Agil menyatakan Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah tersebut. Penggalian itu untuk tujuan mulia yakni harta karun yang ditemukan akan dipakai untuk melunasi utang negara. Tapi harta karun itu ternyata hanya pepesan kosong. Said justru menuai kecaman.

“Said Aqil itu mempermalukan diri sendiri dan mempermalukan negara sebagai menteri. Profesor kok percaya begituan? Saya waktu itu minta agar Menag ini ditangkap karena telah melanggar UU Cagar Budaya,” kata Anhar Gonggong yang zaman Mega menjabat sebagai Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini.

Era Mega berakhir, lewat Pemilu langsung, Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY) terpilih menjadi Presiden Idonesia yang keenam. Pada zaman SBY, muncul geger blue energy yang diduga juga merupakan penipuan.

Blue energy ditemukan Joko Suprapto, orang Nganjuk, Jawa Timur yang background penelitiannya tidak jelas. Dalam teori blue energy Joko, air laut konon bisa diubah menjadi energi baru semacam BBM.

Lewat staf khusus presiden SBY, Heru Lelono, Joko cs bisa meyakinkan Presiden SBY untuk mendukung temuannya. Bahkan temuan ini sudah direspons dengan pembangunan pabrik blue energy di Cikeas, 2 km dari rumah SBY, oleh Sarana Harapan Indo (SHI) Corp.

Anehnya, untuk proyek ini, Menristek, BPPT dan LIPI tidak dilibatkan. Proyek ini seolah hanya menjadi proyek tunggal Heru Lelono. Namun setelah Joko hilang saat akan diminta memamerkan temuannya pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, barulah geger.

Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah diminta membiayai proyek Joko menyebut si peneliti asal Nganjuk itu sebagai penipu. UGM telah melakukan beberapa pertemuan dan menelusuri latar belakang kelompok Joko. “Mereka itu penipu,” kata Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono.

Anhar Gonggong dan peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam juga sepakat dengan Sudiartono. Merujuk berita yang ada dan banyaknya kejanggalan dalam proyek blue energy, Asvi menilai SBY telah menjadi korban penipuan.

Asvi lantas mendesak KPK mengusut dana yang dipakai untuk proyek blue energy. Meski dikatakan, dana itu dari swasta tapi swasta mau membantu karena terkait presiden. “Kalau proyeknya tidak bonafid, mereka tidak akan mau mengeluarkan dana. Mereka mau mengeluarkan uang karena ada presiden atau orang dekat presiden di balik proyek itu,” kata Asvi.

Heru Lelono yang diminta tanggapannya soal kemungkinan SBY telah tertipu dalam proyek blue energy, tidak mau berkomentar. “Aku nggak mau komentar apa pun terhadap media mana pun sekarang,” kata Heru kepada detikcom

detikcom 02/06/2008 14:11

→ No CommentsTags:

Penipu Masuk Istana (2) Tak Lulus SD Bisa Bodohi Wapres

June 10th, 2008 · sejarah

Raja Idrus dan Ratu Markonah yang sebenarnya hanya tukang becak dan pelacur berhasil membodohi Soekarno. Anehnya, kasus ’serupa’ kembali terulang di pemerintahan selanjutnya. Di zaman Presiden Soeharto, lagi-lagi penipu kelas kakap berhasil masuk istana. Kalau zaman Soekarno, korbannya Sang Presiden, di zaman Soeharto, Wakil Presiden Adam Malik yang jadi korbannya.

Penipu kelas kakap di zaman Soeharto bernama Cut Zahara Fona. Perempuan asal Aceh ini tidak lulus SD. Namun ia memiliki ide jenius yang bisa membohongi orang se-Indonesia. Perempuan ini mengklaim janin yang ada di perutnya bisa bicara bahkan mengaji. Kabar aneh itu tentu menggegerkan masyarakat. Orang-orang beramai-ramai menemui Cut Zahara untuk menyaksikan keajaiban tersebut.

Masyarakat bahkan rela antre untuk menempelkan telinganya ke perut si ibu demi mendengarkan suara sang janin. Ajaib, dari perut itu memang terdengar suara orang bicara, kadang bahkan mengaji Al Quran. Berita aneh itu pun menyebar dan dimuat media massa.

Sejumlah ulama yang dimintai pendapat tentang keanehan tersebut memberikan pendapat yang cenderung membenarkan berita aneh tersebut. Ulama kelas satu Indonesia umumnya berpendapat, janin dalam perut bisa mengaji merupakan bukti kekuasaan Tuhan. Kun fayakun, bila Tuhan menghendaki apa pun bisa terjadi. Begitu tanggapan para ulama.

Buya Hamka, pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga memberi pendapat serupa. Padahal Buya sebenarnya meragukan ada janin dalam perut bisa mengaji. “Buya Hamka sebenarnya nggak percaya. Dia cuma memberi reaksi saat ditanya wartawan dengan menyatakan kalau Tuhan menghendaki memang bisa terjadi,” kata sejarahwan UI Anhar Gonggong kepada detikcom.

Hebatnya, kasus janin bisa ngaji itu sampai dipercayai Wakil Presiden Adam Malik. Pak Wapres era Soeharto itu diyakinkan adiknya jika janin bisa mengaji itu memang benar adanya. Adam Malik lantas mengundang Cut Zahara Fona agar datang ke Istana Wapres.

Di Istana Wapres inilah, Adam Malik menempelkan kupingnya ke perut Cut Zahara demi mendengar suara si janin. Peristiwa ini pun tidak lepas dari jepretan wartawan. “Ada itu fotonya di Pos Kota dulu tahun 1970-an. Fotonya juga ada di harian Merdeka,” tutur Anhar yang pernah menjabat sebagai Dirjen di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tersebut.

Data yang bisa dicari di internet yang membahas kasus Cut Zahara, sejumlah orang bercerita Soeharto dan Ibu Negara Soehartinah juga termasuk orang yang mempercayai ada janin bisa mengaji. Soeharto bahkan juga ikut menempelkan kupingnya ke perut perempuan Aceh itu. Namun Anhar Gonggong tidak bisa membenarkan berita tersebut. “Seingat saya tidak ada berita di media massa waktu itu yang memberitakan Pak Harto dan Bu Tien bertemu Cut Zahara. Sepertinya hanya Adam Malik saja korbannya,” jelas Anhar.

Janin bisa ngaji tidak hanya menggegerkan Indonesia, fenomena ini juga menarik perhatian Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman Putra waktu itu. Idem dengan Adam Malik, PM Malaysia itu juga percaya janin dalam perut bisa mengaji itu benar adanya. Semua bisa saja terjadi jika Tuhan menghendaki. Bukti yang paling nyata adalah Perawan Maria yang bisa melahirkan bayi Isa. Begitu anggapan yang berkembang kala itu yang umumnya merujuk kasus Cut Zahara dengan mukjizat Perawan Maria.

Maka saat itu mayoritas masyarakat Indonesia percaya janin di perut Cut Zahara memang benar-benar bisa mengaji. Masyarakat juga tidak sadar dan tidak pernah mempertanyakan umur janin di perut Cut Zahara yang bisa lebih dari satu tahun. Untunglah kemudian ada Kakanwil Kesehatan DKI Dr Herman Susilo yang bersuara berbeda. Dr Herman menyatakan, janin bisa mengaji merupakan hal yang tidak mungkin. Sebab bayi dalam kandungan tidak dapat membuka mulut atau bernafas normal sehingga tidak akan dapat mengeluarkan suara.

Karena melawan arus, Dr Herman diancam akan dibunuh oleh orang-orang fanatik yang mempercayai bayi dalam perut bisa mengaji. Menghindari ancaman itu dokter Herman lantas bersembunyi. Penelusuran detikcom, dokter Herman yang tinggal di Ciganjur ini meninggal dunia pada tahun 1998. Tapi belakangan terbukti dokter Herman Susilolah yang benar. Bayi ajaib yang bisa membaca Al Quran ketika masih dalam rahim ibunya adalah bohong alias dusta belaka.

Suara orang mengaji yang terdengar dari perut Cut Zahara ternyata berasal dari tape recorder yang disembunyikan di balik kainnya. Kedok Cut Zahara tersingkap ketika perempuan ini berkunjung ke Banjarmasin. Panglima Daerah Kepolisian (sebutan Kapolda waktu itu) Kalimantan Selatan Brigjen Abdul Hamid Swasono tidak percaya ada janin bisa bicara. “Manusia tidak bisa bicara di dalam air (ketuban),” kata Abdul Hamid waktu itu.

Kapolda memerintahkan anak buahnya untuk mengungkap kasus itu. Kapolres Banjarmasin ditemani istri dan polwan waktu itu lantas menemui Cut Zahara dan pura-pura ingin mendengarkan suara si janin. Dengan taktik yang jitu, akhirnya si polwan berhasil menyingkap kain Cut Zahara dan menemukan tape recorder di balik kain perempuan itu. Setelah kedoknya terbuka Cut Zahara pun dipenjara. Ia sempat kabur namun berhasil ditangkap kembali.

Peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam mengungkapkan, tahun 1970-an teknologi tape recorder masih menjadi barang baru di Indonesia. Kala itu tape recorder kecil yang biasa dipakai wartawan memang belum dikenal oleh masyarakat sehingga masyarakat tidak menaruh curiga pada aksi yang dilakukan Cut Zahara.

Selain itu, masyarakat pada waktu itu masih sangat religius sehingga gampang percaya hal-hal yang aneh dan ajaib merupakan kehendak Tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaanya. “Tapi orang sekelas Adam Malik anehnya kok bisa-bisanya percaya,” ujar Asvi sambil terkekeh.

Menurut data di internet, misalnya yang ditulis di blog ekonomiorangwarasdaninvestasi menyebutkan, setelah kasus Cut Zahra ditangkap, Abdul Hamid Swasono dipensiun dini dari jabatannya dan kemudian meninggal dengan dugaan keracunan. Sejarahwan Anhar Gonggong dan Asvi Warman Adam mengaku tidak tahu soal nasib Abdul Hamid Swasono. “Saya tahunya Cut Zahara ditangkap, selanjutnya tidak ada beritanya lagi,” kata Anhar.

Sementara itu Adam Malik tetap menjadi wakil presiden. Sedangkan Harmoko yang memimpin Pos Kota seperti kita ketahui kemudian diangkat menjadi Menteri Penerangan oleh Soeharto.

detikcom 02/06/2008 12:32

→ No CommentsTags:

Penipu Masuk Istana (1) Pelacur Markonah Kibuli Soekarno

June 10th, 2008 · sejarah

Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kedua nama ini membuat geger Indonesia pada zaman presiden Soekarno. Waktu itu sekitar tahun 1950-an, Indonesia sedang berjuang membebaskan Irian Barat. Markonah berumur 50-an. Wajahnya lumayan menarik. Tapi ia memiliki cacat di matanya sehingga selalu memakai kaca mata hitam.

Pasangan suami-istri itu mengaku sebagai raja dan ratu Suku Anak Dalam, Sumatera. Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.

Hebatnya para pejabat memberikan sambutan yang luar biasa kepada mereka. Mereka dijamu, dielu-elukan, diajak foto bersama dan mendapat liputan media massa. Entah bagaimana ceritanya, kemudian ada seorang pejabat yang memperkenalkan sang raja dan ratu itu kepada Presiden Soekarno.

“Pejabat ini, saya nggak tahu namanya, menyampaikan ke Bung Karno, kalau Raja Idrus dan Ratu Markonah sudah seharusnya diterima di istana. Sebab raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat,” jelas sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong saat berbincang dengan detikcom.

Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Maka Soekarno pun mengundang Idrus dan Markonah ke Istana Merdeka. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.

Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat.

Namuan kenyataan sering kali tidak seindah harapan. Fakta berbicara lain tentang Raja dan Ratu unik tersebut. Idrus dan Markonah yang dianggap raja dan ratu yang bisa membantu Indonesia membebaskan Irian Barat ternyata hanya penipu kelas kakap. Kedok mereka terbongkat saat suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta.

“Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus, karena Idrus itu ternyata tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipu itu. Markonah ternyata seorang pelacur kelas bawah di Tegal, Jawa Tengah. “Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” beber Anhar Gonggong yang kemudian tertawa terkekeh.

Anhar menganalisa, Soekarno bisa tertipu Idrus dan Markonah karena ia sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu juga, karena sebagai pemimpin, Bung Karno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat. “Itu penyakit pemimpin kita, selalu ingin kelihatan dekat dengan rakyat,” ulas Anhar.

Skandal Idrus dan Markonah merupakan kasus penipuan nasional pertama yang dialami negeri ini dengan korban istana. Ternyata penipuan dengan korban istana tidak berhenti pada zaman Soekarno. Kasus serupa bahkan kembali berulang pada pemerintahan selanjutnya.

→ No CommentsTags:

Ahmadun: Ayat Ayat Cinta Puncak Fiksi Islami

June 10th, 2008 · film

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) memikat 3 juta penonton. Novelnya terjual lebih dari 400 ribu eksemplar. Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda menyebut AAC sebagai puncak karya fiksi Islami.

Ahmadun yang adalah redaktur sastra Raepublika merupakan orang yang menawari novel itu untuk dijadikan cerita bersambung di Republika. Habiburrahman El Shirazy, si penulis novel, menjadi salah satu ‘murid’ saat Ahmadun memberikan pelatihan menulis dalam diklat penulisan di Al Azhar, Kairo Mesir.

Bagaimana kisah AAC diterbitkan menjadi sebuah novel? Apa pendapat Ahmadun yang juga seorang sastrawan itu tentang AAC? Berikut wawancaranya:


Bisa diceritakan bagaimana Ayat Ayat Cinta kemudian diterbitkan Republika?

Habib (Habiburrahman El Shirazy) itu salah seorang peserta diklat penulisan fiksi yang diadakan mahasiswa Mesir Al Azhar. Saya menjadi salah satu pembicara yang diundang ke sana. Terus dia pulang ke Indonesia bikin novel.

Awalnya dia mau menerbitkan sendiri lewat Basmala, penerbit milik Habib. Dia menelepon saya minta diberikan pengantar. Datanglah ke rumah saya di Pamulang.

Begitu ditunjukkan naskahnya, saya lihat judulnya menarik. Mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan. Kok ada Ayat-Ayat Cinta? Orang pasti ingin tahu apa isinya. Nah lalu saya tawari agar dimuat sebagai cerita bersambung dulu di Republika. Saat itu saya belum membacanya, tapi sangat tertarik dengan judulnya.

Selain itu, saya niatnya menolong. Dia (Habib) itu kan korban kecelakaan. Ia ingin merintis pesantren dan penerbitan. Nah saya ingin meringankan. Dia setuju untuk dimuat di Republika maka jadilah cerbung di Republika.

Ternyata kemudian banyak yang tertarik dan mengirim SMS minta novel itu dibukukan. Ada beberapa penerbit yang juga menelepon ingin menerbitkannya. Tapi Republika kan punya penerbit buku sendiri dan setelah saya sampaikan penerbit tertarik dan lantas minta Habib untuk diterbitkan di Republika.

Apa kekuatan Ayat Ayat Cinta sehingga bisa laris?

Kekuatan pertama ya judulnya, seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua, pada keteladanan tokoh Fahri. Menurut saya, ini merupakan puncak idealisasi fenomena fiksi islam. Saat itu kan lagi fiksi Islami berkembang sebagai sebuah fenomena. Kita belum menemukan puncaknya seperti apa. Kemudian muncullah Ayat-Ayat Cinta dengan mengangkat teladan tokoh yang menarik.

Teladan tokoh ini penting bagi pembaca muda maupun pembaca perempuan dan keluarga yang memang merindukan bacaan yang mencerahkan. Fahri ini mengandung keteladaan, bisa jadi teladan perjuangan, sikap keislaman. Dan itu ternyata pas untuk kebutuhan pembaca.

Kekuatan ketiga, romantismenya. Ini novel romantis yang Islami. Jarang kisah cinta segiempat didekati secara Islami. Di novel itu kan, pergaulan mereka sangat Islami.Ternyata masyarakat kita masih terpikat atau terpesona kisah yang romantis. Yang namanya novel romantis selalu laris. Misalnya novelnya Hamka.

Adakah faktor dari luar yang menyebabkan novel ini laris?

Mungkin saat itu masyarakat jenuh dengan novel yang mengumbar seks. Saya berpikir ini bisa jadi novel alternatif. Ini puncak fiksi Islami yang memberikan pencerahan, jadi banyak dicari.

Apakah saat menawari untuk jadi cerbung di Republika, anda sudah membayangkan AAC akan meledak?

Ini di luar bayangan saya. Saya memang membayangkan novel ini akan laris. Tapi kalau sampai best seller bahkan mega best seller itu di luar dugaan. Saya membayangkannya selaris buku Islami lainnya. Tapi kan ternyata bisa selaris bahkan mungkin lebih laris dari Saman Ayu Utami, ini luar biasa.

Apa kelemahan novel AAC?

Kekurangan? Pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, seperti karya La Rose dan Marga T, cuma Islami.

Soal tokoh Fahri bagaimana?

Sebagai novel pop yang romantis, tokohnya memang tidak beda jauh dengan dongeng, di mana yang dihadirkan tokoh impian. Ya laki-laki ideal menurut penulisnya ya seperti Fahri. Dalam realitasnya nggak ada. Namanya dongeng kan tidak membumi seperti cverita pangeran katak itu.

Anda sudah melihat filmnya?

Sudah. Untuk filmnya punya logika hiburan tersendiri. Di film sepertinya mengekploitasi romantisme, jadi betul-betul diekploitasi agar bisa nangis. Karakterisasi dan keteladanan Fahri kurang malah ada tambahan soal poligami sebagai pengembangan naskah. Tentu saya kecewa juga. Tapi di sisi lain saya mencoba memahami logika dunia hiburan.

Memang tidak sekuat novelnya. Tapi tetap ada manfaatnya, aspek pencerahan masih ada, misalnya sikap keilslaman Fahri yang membela perempuan dan tetap membawa Islam yang damai dan ramah.

→ No CommentsTags:

Ayu Utami: Ayat-Ayat Cinta Pengecut

June 10th, 2008 · film

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) kini telah tembus 3 juta penonton. Sebelum sukses filmnya, novel dengan judul ang sama juga laris manis. Setelah film rilis, novel AAC juga kembali diserbu pembeli.

Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.

Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.

Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal ‘Saman’ ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:


Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?

Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.

Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?

Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.

Setelah membaca, apa kritik anda?

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.

Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.

Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.

Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?

Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kawin lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.

Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.

Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?

Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kawin lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.

Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?

Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.

Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.

Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.

Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?

Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.

Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .

Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.

Soal poligami, bagaimana pandangan anda?

Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.

Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?

Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?

Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.

Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?

Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.

→ 1 CommentTags:

Fenomena AAC (3) Meledak dengan Sejumlah Cacat

June 10th, 2008 · film

“Sabar dan ikhlas, itulah Islam,” nasihat seorang pria sambil menarik kerah baju seorang pria muda di sebuah sel penjara. Sang pria muda tengah putus asa dengan nasib yang menimpanya.

Si pria muda itu bernama Fahri (diperankan Fedi Nuril). Dialah tokoh utama Ayat Ayat Cinta (AAC) , film yang sedang laris manis sekarang ini. Nasib buruk mendatangi Fahri yang selalu memegang teguh ajaran Islam.

Ketika Fahri masih asyik menikmati bulan madunya, ia tiba-tiba diseret ke penjara dengan tudingan memperkosa Naura (Zaskia Adya Mecca). Padahal Noura justru telah diselamatkan Fahri dari siksaan ayahnya. Seperti tidak putus dirundung malang, setelah dipenjara Fahri lantas dikeluarkan dari kampusnya, Al Azhar.

Bumi seperti runtuh bagi Fahri. Di mata Fahri, hanya ada dua hal yang mengagumkan di Mesir yakni Sungai Nil dan Al Azhar. Untuk bisa masuk Al Azhar, orang tua Fahri yang bukan keluarga berada, terpaksa menjual sawahnya. Setelah diberi petuah soal sabar dan ihlas oleh teman satu selnya, Fahri pun mulai sadar.

Di tengah serbuan film betemakan hantu dan film yang mengumbar sensualitas, AAC memang seperti melawan arus. Temanya terasa beda dan segar. Film ini berusaha menampilkan seorang pemuda muslim (Fahri) yang teguh agamanya, sosok yang sudah jarang bisa ditemui di masyarakat.

Lewat sosok Fahri inilah kemudian ingin digambarkan wajah Islam yang ramah. Ia misalnya memberikan opini yang berbeda tentang penyikapan terhadap Amerika Serikat (AS) yang sangat dibenci oleh muslim. Dalam sebuah adegan diceritakan Fahri tidak setuju muslim bersikap kasar terhadap warga AS.

“Film ini laris karena temanya sesuatu yang beda. Nuansa drama religi, ini yang pertama,” kata produser AAC Manoj Punjabi kepada detikcom.

Terlepas dari temanya yang beda, AAC sebenarnya sudah memiliki modal besar untuk menjadi laris. Film ini mengangkat novel yang dilabeli megabest seller. Novel dengan judul yang sama yang ditulis Habbiburrahman El Shirazy ini sedikitnya telah terjual hingga 400 ribu eksemplar. Tidak ayal para pecinta novel ini pun otomatis dibuat penasaran untuk menonton filmnya.

Selain itu, AAC juga dengan cerdas memasang dua bintang yang menjadi ikon Islam, Zaskia Adya Mecca dan idola generasi gaul, Rianti Cartwright yang adalah VJ MTV. Bila hanya memasang Zaskia saja, bisa-bisa banyak anak gaul yang tidak tertarik menonton AAC. “Aku sangat penasaran dengan akting Rianti,” kata seorang cewek dengan dandanan khas anak gaul di sebuah mall.

Dua faktor itu, ditambah Hanung Bramantyo didapuk menjadi sutradaranya, semakin memperbesar peluang AAC dibanjiri penonton. Hanung telah dikenal reputasinya bisa melahirkan film yang laris. Sebut saja Jomblo, sebagai salah satu contohnya.

Di tangan Hanung, AAC memang menjadi film yang lancar bercerita, sesuatu yang susah ditemui dalam film Indonesia. Selain itu, film juga menampilkan sejumlah pemandangan indah, misalnya hamparan padang pasir dengan piramidanya dan sungai Nil.

Tapi meski demikian, AAC tetap meninggalkan lobang. Akting, karakterisasi dan logika film ini lemah. Wajah damai Islam cenderung disampaikan secara verbal, kurang ditampilkan lewat adegan yang meyakinkan. Nasihat tentang Islam adalah sabar dan ikhlas terlihat terlalu teatrikal.

Akting Fedi Nuril kurang meyakinkan sebagai Fahri, yang dicitrakan sebagai pemuda yang cerdas, punya karakter yang kuat dan teguh agamanya. Fedi saat beradu akting dengan Rianti yang menjadi Aisha, istrinya, lebih sering terlihat seperti suami takut istri , ketimbang pria yang luas pemahaman Islamnya.

Dengan lobang itu, banyak kalangan yang kecewa dengan film AAC. Para sastrawan Islam yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) yang menjadi tempat bernaung novelis AAC, Habibburahman, tidak puas dengan film tersebut.

Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan yang dianggap guru oleh Habibburahman, penulis novel AAC misalnya kecewa dengan karakterisasi Fahri dalam filmnya. “Di film karakter Fahri agak kurang logis. Mengapa ia bisa digilai empat perempuan? Ganteng juga nggak gitu-gitu amat. Jadi kesannya bodo amat perempuan itu berebut Fahri,” kritik Ahmadun.

Sastrawan Islam Asma Nadia juga kecewa berat dengan film yang diproduseri oleh Manoj Punjabi itu. Dalam blognya, Asma mengaku tersiksa menonton film tersebut. Asma menyoroti adegan Fahri berta’aruf dengan Aisha yang sulit diterima logika.

Asma Nadia yang menganggap Kang Abik sebagai adiknya, tidak bisa paham, Fahri yang saleh dan memiliki konsep tentang jodoh yang sedemikian, juga wawasan keislaman yang mantap, dengan mudah memutuskan menikahi Aisha hanya beberapa detik setelah Fahri memandang dengan tidak berkedip wajah Aisha setelah membuka cadarnya.

“Menonton AAC memberikan saya penderitaan yang tidak usai bahkan ketika kami meninggalkan bioskop, dan berkendaraan pulang,” tulis Asma dalam blognya.

Penulis novel AAC sendiri juga kurang puas dengan adaptasi filmnya. Tapi Kang Abik, begitu ia biasa disapa bisa memaklumi film belum bisa sempurna. “Untuk mencapai kesempurnaan, pasti kan ada tahapan-tahapannya.” kata Kang Abik saat ditanya salah satu penggemarnya yang kecewa dengan film AAC.

Terlepas dari cacatnya, film laris AAC telah berhasil membuka wawasan sejumlah orang tentang Islam. Adi, seorang karyawan yang suka dugem, misalnya, mengaku ia bisa belajar tentang Islam dari AAC. Rianti, ikon MTV itu juga menjadi lebih mengerti Islam setelah membintangi AAC.

“Poin saya, makin banyak orang baca dan nonton, berarti makin bagus. Lebih bagus lagi, jika bacaan dan tontonan kita kian beragam,” komentar kritikus sastra Nirwan Arsuka.

detikcom 19/03/2008 15:37

→ No CommentsTags: