iinyumiyanti

Penipu Masuk Istana (4) Ada Krisis, Penipu Gentayangan

June 10, 2008 · No Comments

Presiden boleh saja berganti. Tapi para penipu tetap saja beraksi. Sasaran mereka pun tidak tanggung-tanggung yakni Istana. Presiden Soekarno berhasil diperdaya tukang becak dan pelacur yang mengaku sebagai Raja Idrus dan Ratu Markonah.

Wapres era Soeharto, Adam Malik dibodohi Cut Zahara Fona, perempuan tak lulus SD yang mengaku janin di perutnya bisa mengaji. Era Gus Dur, ada Soewondo, tukang pijat Gus Dur yang berhasil membobol Rp 35 miliar uang Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog).

Zaman Megawati, Menag Said Agil Al-Munawar terkena skandal penggalian situs Batutulis. Zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada geger blue energy. Sang penemu blue energy, Joko Suprapto, yang tidak memiliki latar belakang penelitian yang jelas disebut sebagai penipu oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mengapa Istana bisa dipecundangi para penipu? Apa yang salah? Sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong menganalisa, kasus penipuan dengan korban Istana umumnya muncul saat terjadi krisis.

Raja Idrus dan Ratu Markonah berhasil membodohi sang presiden karena waktu itu Soekarno sedang mengalami krisis untuk membebaskan Irian Barat. Pemerintah Megawati dibelit kasus utang negara yang menumpuk. Pemerintah SBY terjerat krisis energi akibat harga minyak dunia yang terus melonjak.

“Seperti kondisi sekarang ini, harus diwaspadai, sekarang ini pasti akan banyak penipu-penipu yang muncul. Para pemimpin dan rakyat jangan mudah percaya,” kata Anhar Gonggong.

Penipu bisa masuk Istana juga karena aturan protokoler dari zaman Soekarno sampai sekarang masih lemah. Protokoler harus lebih ketat. Ini bukan berarti kemudian tidak mau nerima tamu. Tapi tamu yang diterima harus betul-betul diketahui identitas dan latar belakangnya sehingga presiden betul-betul tahu perlu menerima tamu itu atau tidak.

Istana bisa dibobol penipu juga menunjukkan lemahnya koordinasi antardepartemen. Anhar mengungkapkan, ketika ia menjabat Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tidak pernah dilibatkan saat Menag Said Agil akan menggali situs Batutulis Bogor.

Semestinya, pihak Istana bisa mengecek ke departemen terkait bila ada sesuatu yang penting. Jangan kerja sendiri-sendiri.”Tinggal tanya saja, pasti departemen punya data-data tentang orang terkait. Tapi pemerintah sukanya kerja sendiri-sendiri,” kritik Anhar.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto menyarankan pemerintahan SBY mengadopsi sistem kepresiden Amerika Serikat (AS). Di AS, terdapat kelompok West Wing yakni para ahli yang bertugas menyaring informasi, sebelum masuk ke Ruang Oval (ruangan Presiden AS). “Nah, West Wing itu diisi orang profesional, bukan partisan. Ada baiknya ini dicontoh,” kata Arya.

detikcom 02/06/2008 15:54

→ No CommentsCategories: sejarah

Penipu Masuk Istana (3) Pemijat Sampai Peneliti pun Nipu

June 10, 2008 · No Comments

Dari masa ke masa, presiden demi presiden berganti, Istana terus saja menjadi sasaran empuk penipu. Setelah memperdayai petinggi negeri ini di masa Soekarno dan Soeharto, penipu juga sukses membodohi pemerintahan selanjutnya.

Sejarahwan Anhar Gonggong menyatakan hanya zaman Presiden Habibie yang tidak berhasil disentuh penipu. Hal ini karena umur pemerintahan Habibie yang pendek. Berganti ke zaman Gus Dur, seorang penipu bernama Soewondo bahkan bisa leluasa masuk Istana. Pasalnya Soewondo adalah tukang pijat Gus Dur.

Soewondo berhasil menipu Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) dan membobol uang yayasan itu hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur namun kemudian bisa ditangkap polisi di salah satu tempat di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonis mantan tukang pijat ini dengan hukuman 3,5 tahun.

Anhar Gonggong menganalisis, Soewondo bisa bebas keluar masuk Istana karena pada zaman Gus Dur, kondisi Istana mirip pesantren. Semua orang bisa dengan bebas keluar masuk Istana untuk bertemu Gus Dur.

“Bagaimana penipu tidak masuk? Saat itu semua bebas masuk. Istana kayak rumah rakyat, kayak pesantren. Dari pagi sampai pagi lagi semua orang bebas keluar masuk hingga kotor sekali. Megawati saja mau masuk Istana ngomel karena kotornya nggak karuan,” tutur Anhar.

Kemudian melalui pergolakan sejarah yang panas, Gus Dur dilengserkan dan digantikan Megawati Soekarnoputri. Lagi-lagi di zaman Mega, skandal penipuan kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya Menteri Agama Said Agil Al-Munawar. Pak Menteri yang bergelar profesor ini memimpin penggalian situs purbakala Batutulis di Bogor. Pak Menteri yakin di situs itu ada harta karun peninggalan Prabu Siliwangi.

Said Agil menyatakan Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah tersebut. Penggalian itu untuk tujuan mulia yakni harta karun yang ditemukan akan dipakai untuk melunasi utang negara. Tapi harta karun itu ternyata hanya pepesan kosong. Said justru menuai kecaman.

“Said Aqil itu mempermalukan diri sendiri dan mempermalukan negara sebagai menteri. Profesor kok percaya begituan? Saya waktu itu minta agar Menag ini ditangkap karena telah melanggar UU Cagar Budaya,” kata Anhar Gonggong yang zaman Mega menjabat sebagai Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini.

Era Mega berakhir, lewat Pemilu langsung, Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY) terpilih menjadi Presiden Idonesia yang keenam. Pada zaman SBY, muncul geger blue energy yang diduga juga merupakan penipuan.

Blue energy ditemukan Joko Suprapto, orang Nganjuk, Jawa Timur yang background penelitiannya tidak jelas. Dalam teori blue energy Joko, air laut konon bisa diubah menjadi energi baru semacam BBM.

Lewat staf khusus presiden SBY, Heru Lelono, Joko cs bisa meyakinkan Presiden SBY untuk mendukung temuannya. Bahkan temuan ini sudah direspons dengan pembangunan pabrik blue energy di Cikeas, 2 km dari rumah SBY, oleh Sarana Harapan Indo (SHI) Corp.

Anehnya, untuk proyek ini, Menristek, BPPT dan LIPI tidak dilibatkan. Proyek ini seolah hanya menjadi proyek tunggal Heru Lelono. Namun setelah Joko hilang saat akan diminta memamerkan temuannya pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, barulah geger.

Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah diminta membiayai proyek Joko menyebut si peneliti asal Nganjuk itu sebagai penipu. UGM telah melakukan beberapa pertemuan dan menelusuri latar belakang kelompok Joko. “Mereka itu penipu,” kata Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono.

Anhar Gonggong dan peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam juga sepakat dengan Sudiartono. Merujuk berita yang ada dan banyaknya kejanggalan dalam proyek blue energy, Asvi menilai SBY telah menjadi korban penipuan.

Asvi lantas mendesak KPK mengusut dana yang dipakai untuk proyek blue energy. Meski dikatakan, dana itu dari swasta tapi swasta mau membantu karena terkait presiden. “Kalau proyeknya tidak bonafid, mereka tidak akan mau mengeluarkan dana. Mereka mau mengeluarkan uang karena ada presiden atau orang dekat presiden di balik proyek itu,” kata Asvi.

Heru Lelono yang diminta tanggapannya soal kemungkinan SBY telah tertipu dalam proyek blue energy, tidak mau berkomentar. “Aku nggak mau komentar apa pun terhadap media mana pun sekarang,” kata Heru kepada detikcom

detikcom 02/06/2008 14:11

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Penipu Masuk Istana (2) Tak Lulus SD Bisa Bodohi Wapres

June 10, 2008 · No Comments

Raja Idrus dan Ratu Markonah yang sebenarnya hanya tukang becak dan pelacur berhasil membodohi Soekarno. Anehnya, kasus ’serupa’ kembali terulang di pemerintahan selanjutnya. Di zaman Presiden Soeharto, lagi-lagi penipu kelas kakap berhasil masuk istana. Kalau zaman Soekarno, korbannya Sang Presiden, di zaman Soeharto, Wakil Presiden Adam Malik yang jadi korbannya.

Penipu kelas kakap di zaman Soeharto bernama Cut Zahara Fona. Perempuan asal Aceh ini tidak lulus SD. Namun ia memiliki ide jenius yang bisa membohongi orang se-Indonesia. Perempuan ini mengklaim janin yang ada di perutnya bisa bicara bahkan mengaji. Kabar aneh itu tentu menggegerkan masyarakat. Orang-orang beramai-ramai menemui Cut Zahara untuk menyaksikan keajaiban tersebut.

Masyarakat bahkan rela antre untuk menempelkan telinganya ke perut si ibu demi mendengarkan suara sang janin. Ajaib, dari perut itu memang terdengar suara orang bicara, kadang bahkan mengaji Al Quran. Berita aneh itu pun menyebar dan dimuat media massa.

Sejumlah ulama yang dimintai pendapat tentang keanehan tersebut memberikan pendapat yang cenderung membenarkan berita aneh tersebut. Ulama kelas satu Indonesia umumnya berpendapat, janin dalam perut bisa mengaji merupakan bukti kekuasaan Tuhan. Kun fayakun, bila Tuhan menghendaki apa pun bisa terjadi. Begitu tanggapan para ulama.

Buya Hamka, pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga memberi pendapat serupa. Padahal Buya sebenarnya meragukan ada janin dalam perut bisa mengaji. “Buya Hamka sebenarnya nggak percaya. Dia cuma memberi reaksi saat ditanya wartawan dengan menyatakan kalau Tuhan menghendaki memang bisa terjadi,” kata sejarahwan UI Anhar Gonggong kepada detikcom.

Hebatnya, kasus janin bisa ngaji itu sampai dipercayai Wakil Presiden Adam Malik. Pak Wapres era Soeharto itu diyakinkan adiknya jika janin bisa mengaji itu memang benar adanya. Adam Malik lantas mengundang Cut Zahara Fona agar datang ke Istana Wapres.

Di Istana Wapres inilah, Adam Malik menempelkan kupingnya ke perut Cut Zahara demi mendengar suara si janin. Peristiwa ini pun tidak lepas dari jepretan wartawan. “Ada itu fotonya di Pos Kota dulu tahun 1970-an. Fotonya juga ada di harian Merdeka,” tutur Anhar yang pernah menjabat sebagai Dirjen di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tersebut.

Data yang bisa dicari di internet yang membahas kasus Cut Zahara, sejumlah orang bercerita Soeharto dan Ibu Negara Soehartinah juga termasuk orang yang mempercayai ada janin bisa mengaji. Soeharto bahkan juga ikut menempelkan kupingnya ke perut perempuan Aceh itu. Namun Anhar Gonggong tidak bisa membenarkan berita tersebut. “Seingat saya tidak ada berita di media massa waktu itu yang memberitakan Pak Harto dan Bu Tien bertemu Cut Zahara. Sepertinya hanya Adam Malik saja korbannya,” jelas Anhar.

Janin bisa ngaji tidak hanya menggegerkan Indonesia, fenomena ini juga menarik perhatian Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman Putra waktu itu. Idem dengan Adam Malik, PM Malaysia itu juga percaya janin dalam perut bisa mengaji itu benar adanya. Semua bisa saja terjadi jika Tuhan menghendaki. Bukti yang paling nyata adalah Perawan Maria yang bisa melahirkan bayi Isa. Begitu anggapan yang berkembang kala itu yang umumnya merujuk kasus Cut Zahara dengan mukjizat Perawan Maria.

Maka saat itu mayoritas masyarakat Indonesia percaya janin di perut Cut Zahara memang benar-benar bisa mengaji. Masyarakat juga tidak sadar dan tidak pernah mempertanyakan umur janin di perut Cut Zahara yang bisa lebih dari satu tahun. Untunglah kemudian ada Kakanwil Kesehatan DKI Dr Herman Susilo yang bersuara berbeda. Dr Herman menyatakan, janin bisa mengaji merupakan hal yang tidak mungkin. Sebab bayi dalam kandungan tidak dapat membuka mulut atau bernafas normal sehingga tidak akan dapat mengeluarkan suara.

Karena melawan arus, Dr Herman diancam akan dibunuh oleh orang-orang fanatik yang mempercayai bayi dalam perut bisa mengaji. Menghindari ancaman itu dokter Herman lantas bersembunyi. Penelusuran detikcom, dokter Herman yang tinggal di Ciganjur ini meninggal dunia pada tahun 1998. Tapi belakangan terbukti dokter Herman Susilolah yang benar. Bayi ajaib yang bisa membaca Al Quran ketika masih dalam rahim ibunya adalah bohong alias dusta belaka.

Suara orang mengaji yang terdengar dari perut Cut Zahara ternyata berasal dari tape recorder yang disembunyikan di balik kainnya. Kedok Cut Zahara tersingkap ketika perempuan ini berkunjung ke Banjarmasin. Panglima Daerah Kepolisian (sebutan Kapolda waktu itu) Kalimantan Selatan Brigjen Abdul Hamid Swasono tidak percaya ada janin bisa bicara. “Manusia tidak bisa bicara di dalam air (ketuban),” kata Abdul Hamid waktu itu.

Kapolda memerintahkan anak buahnya untuk mengungkap kasus itu. Kapolres Banjarmasin ditemani istri dan polwan waktu itu lantas menemui Cut Zahara dan pura-pura ingin mendengarkan suara si janin. Dengan taktik yang jitu, akhirnya si polwan berhasil menyingkap kain Cut Zahara dan menemukan tape recorder di balik kain perempuan itu. Setelah kedoknya terbuka Cut Zahara pun dipenjara. Ia sempat kabur namun berhasil ditangkap kembali.

Peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam mengungkapkan, tahun 1970-an teknologi tape recorder masih menjadi barang baru di Indonesia. Kala itu tape recorder kecil yang biasa dipakai wartawan memang belum dikenal oleh masyarakat sehingga masyarakat tidak menaruh curiga pada aksi yang dilakukan Cut Zahara.

Selain itu, masyarakat pada waktu itu masih sangat religius sehingga gampang percaya hal-hal yang aneh dan ajaib merupakan kehendak Tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaanya. “Tapi orang sekelas Adam Malik anehnya kok bisa-bisanya percaya,” ujar Asvi sambil terkekeh.

Menurut data di internet, misalnya yang ditulis di blog ekonomiorangwarasdaninvestasi menyebutkan, setelah kasus Cut Zahra ditangkap, Abdul Hamid Swasono dipensiun dini dari jabatannya dan kemudian meninggal dengan dugaan keracunan. Sejarahwan Anhar Gonggong dan Asvi Warman Adam mengaku tidak tahu soal nasib Abdul Hamid Swasono. “Saya tahunya Cut Zahara ditangkap, selanjutnya tidak ada beritanya lagi,” kata Anhar.

Sementara itu Adam Malik tetap menjadi wakil presiden. Sedangkan Harmoko yang memimpin Pos Kota seperti kita ketahui kemudian diangkat menjadi Menteri Penerangan oleh Soeharto.

detikcom 02/06/2008 12:32

→ No CommentsCategories: sejarah

Penipu Masuk Istana (1) Pelacur Markonah Kibuli Soekarno

June 10, 2008 · No Comments

Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kedua nama ini membuat geger Indonesia pada zaman presiden Soekarno. Waktu itu sekitar tahun 1950-an, Indonesia sedang berjuang membebaskan Irian Barat. Markonah berumur 50-an. Wajahnya lumayan menarik. Tapi ia memiliki cacat di matanya sehingga selalu memakai kaca mata hitam.

Pasangan suami-istri itu mengaku sebagai raja dan ratu Suku Anak Dalam, Sumatera. Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.

Hebatnya para pejabat memberikan sambutan yang luar biasa kepada mereka. Mereka dijamu, dielu-elukan, diajak foto bersama dan mendapat liputan media massa. Entah bagaimana ceritanya, kemudian ada seorang pejabat yang memperkenalkan sang raja dan ratu itu kepada Presiden Soekarno.

“Pejabat ini, saya nggak tahu namanya, menyampaikan ke Bung Karno, kalau Raja Idrus dan Ratu Markonah sudah seharusnya diterima di istana. Sebab raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat,” jelas sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong saat berbincang dengan detikcom.

Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Maka Soekarno pun mengundang Idrus dan Markonah ke Istana Merdeka. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.

Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat.

Namuan kenyataan sering kali tidak seindah harapan. Fakta berbicara lain tentang Raja dan Ratu unik tersebut. Idrus dan Markonah yang dianggap raja dan ratu yang bisa membantu Indonesia membebaskan Irian Barat ternyata hanya penipu kelas kakap. Kedok mereka terbongkat saat suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta.

“Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus, karena Idrus itu ternyata tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipu itu. Markonah ternyata seorang pelacur kelas bawah di Tegal, Jawa Tengah. “Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” beber Anhar Gonggong yang kemudian tertawa terkekeh.

Anhar menganalisa, Soekarno bisa tertipu Idrus dan Markonah karena ia sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu juga, karena sebagai pemimpin, Bung Karno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat. “Itu penyakit pemimpin kita, selalu ingin kelihatan dekat dengan rakyat,” ulas Anhar.

Skandal Idrus dan Markonah merupakan kasus penipuan nasional pertama yang dialami negeri ini dengan korban istana. Ternyata penipuan dengan korban istana tidak berhenti pada zaman Soekarno. Kasus serupa bahkan kembali berulang pada pemerintahan selanjutnya.

→ No CommentsCategories: sejarah

Ahmadun: Ayat Ayat Cinta Puncak Fiksi Islami

June 10, 2008 · No Comments

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) memikat 3 juta penonton. Novelnya terjual lebih dari 400 ribu eksemplar. Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda menyebut AAC sebagai puncak karya fiksi Islami.

Ahmadun yang adalah redaktur sastra Raepublika merupakan orang yang menawari novel itu untuk dijadikan cerita bersambung di Republika. Habiburrahman El Shirazy, si penulis novel, menjadi salah satu ‘murid’ saat Ahmadun memberikan pelatihan menulis dalam diklat penulisan di Al Azhar, Kairo Mesir.

Bagaimana kisah AAC diterbitkan menjadi sebuah novel? Apa pendapat Ahmadun yang juga seorang sastrawan itu tentang AAC? Berikut wawancaranya:


Bisa diceritakan bagaimana Ayat Ayat Cinta kemudian diterbitkan Republika?

Habib (Habiburrahman El Shirazy) itu salah seorang peserta diklat penulisan fiksi yang diadakan mahasiswa Mesir Al Azhar. Saya menjadi salah satu pembicara yang diundang ke sana. Terus dia pulang ke Indonesia bikin novel.

Awalnya dia mau menerbitkan sendiri lewat Basmala, penerbit milik Habib. Dia menelepon saya minta diberikan pengantar. Datanglah ke rumah saya di Pamulang.

Begitu ditunjukkan naskahnya, saya lihat judulnya menarik. Mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan. Kok ada Ayat-Ayat Cinta? Orang pasti ingin tahu apa isinya. Nah lalu saya tawari agar dimuat sebagai cerita bersambung dulu di Republika. Saat itu saya belum membacanya, tapi sangat tertarik dengan judulnya.

Selain itu, saya niatnya menolong. Dia (Habib) itu kan korban kecelakaan. Ia ingin merintis pesantren dan penerbitan. Nah saya ingin meringankan. Dia setuju untuk dimuat di Republika maka jadilah cerbung di Republika.

Ternyata kemudian banyak yang tertarik dan mengirim SMS minta novel itu dibukukan. Ada beberapa penerbit yang juga menelepon ingin menerbitkannya. Tapi Republika kan punya penerbit buku sendiri dan setelah saya sampaikan penerbit tertarik dan lantas minta Habib untuk diterbitkan di Republika.

Apa kekuatan Ayat Ayat Cinta sehingga bisa laris?

Kekuatan pertama ya judulnya, seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua, pada keteladanan tokoh Fahri. Menurut saya, ini merupakan puncak idealisasi fenomena fiksi islam. Saat itu kan lagi fiksi Islami berkembang sebagai sebuah fenomena. Kita belum menemukan puncaknya seperti apa. Kemudian muncullah Ayat-Ayat Cinta dengan mengangkat teladan tokoh yang menarik.

Teladan tokoh ini penting bagi pembaca muda maupun pembaca perempuan dan keluarga yang memang merindukan bacaan yang mencerahkan. Fahri ini mengandung keteladaan, bisa jadi teladan perjuangan, sikap keislaman. Dan itu ternyata pas untuk kebutuhan pembaca.

Kekuatan ketiga, romantismenya. Ini novel romantis yang Islami. Jarang kisah cinta segiempat didekati secara Islami. Di novel itu kan, pergaulan mereka sangat Islami.Ternyata masyarakat kita masih terpikat atau terpesona kisah yang romantis. Yang namanya novel romantis selalu laris. Misalnya novelnya Hamka.

Adakah faktor dari luar yang menyebabkan novel ini laris?

Mungkin saat itu masyarakat jenuh dengan novel yang mengumbar seks. Saya berpikir ini bisa jadi novel alternatif. Ini puncak fiksi Islami yang memberikan pencerahan, jadi banyak dicari.

Apakah saat menawari untuk jadi cerbung di Republika, anda sudah membayangkan AAC akan meledak?

Ini di luar bayangan saya. Saya memang membayangkan novel ini akan laris. Tapi kalau sampai best seller bahkan mega best seller itu di luar dugaan. Saya membayangkannya selaris buku Islami lainnya. Tapi kan ternyata bisa selaris bahkan mungkin lebih laris dari Saman Ayu Utami, ini luar biasa.

Apa kelemahan novel AAC?

Kekurangan? Pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, seperti karya La Rose dan Marga T, cuma Islami.

Soal tokoh Fahri bagaimana?

Sebagai novel pop yang romantis, tokohnya memang tidak beda jauh dengan dongeng, di mana yang dihadirkan tokoh impian. Ya laki-laki ideal menurut penulisnya ya seperti Fahri. Dalam realitasnya nggak ada. Namanya dongeng kan tidak membumi seperti cverita pangeran katak itu.

Anda sudah melihat filmnya?

Sudah. Untuk filmnya punya logika hiburan tersendiri. Di film sepertinya mengekploitasi romantisme, jadi betul-betul diekploitasi agar bisa nangis. Karakterisasi dan keteladanan Fahri kurang malah ada tambahan soal poligami sebagai pengembangan naskah. Tentu saya kecewa juga. Tapi di sisi lain saya mencoba memahami logika dunia hiburan.

Memang tidak sekuat novelnya. Tapi tetap ada manfaatnya, aspek pencerahan masih ada, misalnya sikap keilslaman Fahri yang membela perempuan dan tetap membawa Islam yang damai dan ramah.

→ No CommentsCategories: film

Ayu Utami: Ayat-Ayat Cinta Pengecut

June 10, 2008 · No Comments

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) kini telah tembus 3 juta penonton. Sebelum sukses filmnya, novel dengan judul ang sama juga laris manis. Setelah film rilis, novel AAC juga kembali diserbu pembeli.

Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.

Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.

Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal ‘Saman’ ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:


Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?

Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.

Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?

Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.

Setelah membaca, apa kritik anda?

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.

Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.

Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.

Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?

Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kawin lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.

Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.

Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?

Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kawin lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.

Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?

Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.

Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.

Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.

Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?

Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.

Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .

Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.

Soal poligami, bagaimana pandangan anda?

Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.

Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?

Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?

Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.

Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?

Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.

→ No CommentsCategories: film

Fenomena AAC (3) Meledak dengan Sejumlah Cacat

June 10, 2008 · No Comments

“Sabar dan ikhlas, itulah Islam,” nasihat seorang pria sambil menarik kerah baju seorang pria muda di sebuah sel penjara. Sang pria muda tengah putus asa dengan nasib yang menimpanya.

Si pria muda itu bernama Fahri (diperankan Fedi Nuril). Dialah tokoh utama Ayat Ayat Cinta (AAC) , film yang sedang laris manis sekarang ini. Nasib buruk mendatangi Fahri yang selalu memegang teguh ajaran Islam.

Ketika Fahri masih asyik menikmati bulan madunya, ia tiba-tiba diseret ke penjara dengan tudingan memperkosa Naura (Zaskia Adya Mecca). Padahal Noura justru telah diselamatkan Fahri dari siksaan ayahnya. Seperti tidak putus dirundung malang, setelah dipenjara Fahri lantas dikeluarkan dari kampusnya, Al Azhar.

Bumi seperti runtuh bagi Fahri. Di mata Fahri, hanya ada dua hal yang mengagumkan di Mesir yakni Sungai Nil dan Al Azhar. Untuk bisa masuk Al Azhar, orang tua Fahri yang bukan keluarga berada, terpaksa menjual sawahnya. Setelah diberi petuah soal sabar dan ihlas oleh teman satu selnya, Fahri pun mulai sadar.

Di tengah serbuan film betemakan hantu dan film yang mengumbar sensualitas, AAC memang seperti melawan arus. Temanya terasa beda dan segar. Film ini berusaha menampilkan seorang pemuda muslim (Fahri) yang teguh agamanya, sosok yang sudah jarang bisa ditemui di masyarakat.

Lewat sosok Fahri inilah kemudian ingin digambarkan wajah Islam yang ramah. Ia misalnya memberikan opini yang berbeda tentang penyikapan terhadap Amerika Serikat (AS) yang sangat dibenci oleh muslim. Dalam sebuah adegan diceritakan Fahri tidak setuju muslim bersikap kasar terhadap warga AS.

“Film ini laris karena temanya sesuatu yang beda. Nuansa drama religi, ini yang pertama,” kata produser AAC Manoj Punjabi kepada detikcom.

Terlepas dari temanya yang beda, AAC sebenarnya sudah memiliki modal besar untuk menjadi laris. Film ini mengangkat novel yang dilabeli megabest seller. Novel dengan judul yang sama yang ditulis Habbiburrahman El Shirazy ini sedikitnya telah terjual hingga 400 ribu eksemplar. Tidak ayal para pecinta novel ini pun otomatis dibuat penasaran untuk menonton filmnya.

Selain itu, AAC juga dengan cerdas memasang dua bintang yang menjadi ikon Islam, Zaskia Adya Mecca dan idola generasi gaul, Rianti Cartwright yang adalah VJ MTV. Bila hanya memasang Zaskia saja, bisa-bisa banyak anak gaul yang tidak tertarik menonton AAC. “Aku sangat penasaran dengan akting Rianti,” kata seorang cewek dengan dandanan khas anak gaul di sebuah mall.

Dua faktor itu, ditambah Hanung Bramantyo didapuk menjadi sutradaranya, semakin memperbesar peluang AAC dibanjiri penonton. Hanung telah dikenal reputasinya bisa melahirkan film yang laris. Sebut saja Jomblo, sebagai salah satu contohnya.

Di tangan Hanung, AAC memang menjadi film yang lancar bercerita, sesuatu yang susah ditemui dalam film Indonesia. Selain itu, film juga menampilkan sejumlah pemandangan indah, misalnya hamparan padang pasir dengan piramidanya dan sungai Nil.

Tapi meski demikian, AAC tetap meninggalkan lobang. Akting, karakterisasi dan logika film ini lemah. Wajah damai Islam cenderung disampaikan secara verbal, kurang ditampilkan lewat adegan yang meyakinkan. Nasihat tentang Islam adalah sabar dan ikhlas terlihat terlalu teatrikal.

Akting Fedi Nuril kurang meyakinkan sebagai Fahri, yang dicitrakan sebagai pemuda yang cerdas, punya karakter yang kuat dan teguh agamanya. Fedi saat beradu akting dengan Rianti yang menjadi Aisha, istrinya, lebih sering terlihat seperti suami takut istri , ketimbang pria yang luas pemahaman Islamnya.

Dengan lobang itu, banyak kalangan yang kecewa dengan film AAC. Para sastrawan Islam yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) yang menjadi tempat bernaung novelis AAC, Habibburahman, tidak puas dengan film tersebut.

Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan yang dianggap guru oleh Habibburahman, penulis novel AAC misalnya kecewa dengan karakterisasi Fahri dalam filmnya. “Di film karakter Fahri agak kurang logis. Mengapa ia bisa digilai empat perempuan? Ganteng juga nggak gitu-gitu amat. Jadi kesannya bodo amat perempuan itu berebut Fahri,” kritik Ahmadun.

Sastrawan Islam Asma Nadia juga kecewa berat dengan film yang diproduseri oleh Manoj Punjabi itu. Dalam blognya, Asma mengaku tersiksa menonton film tersebut. Asma menyoroti adegan Fahri berta’aruf dengan Aisha yang sulit diterima logika.

Asma Nadia yang menganggap Kang Abik sebagai adiknya, tidak bisa paham, Fahri yang saleh dan memiliki konsep tentang jodoh yang sedemikian, juga wawasan keislaman yang mantap, dengan mudah memutuskan menikahi Aisha hanya beberapa detik setelah Fahri memandang dengan tidak berkedip wajah Aisha setelah membuka cadarnya.

“Menonton AAC memberikan saya penderitaan yang tidak usai bahkan ketika kami meninggalkan bioskop, dan berkendaraan pulang,” tulis Asma dalam blognya.

Penulis novel AAC sendiri juga kurang puas dengan adaptasi filmnya. Tapi Kang Abik, begitu ia biasa disapa bisa memaklumi film belum bisa sempurna. “Untuk mencapai kesempurnaan, pasti kan ada tahapan-tahapannya.” kata Kang Abik saat ditanya salah satu penggemarnya yang kecewa dengan film AAC.

Terlepas dari cacatnya, film laris AAC telah berhasil membuka wawasan sejumlah orang tentang Islam. Adi, seorang karyawan yang suka dugem, misalnya, mengaku ia bisa belajar tentang Islam dari AAC. Rianti, ikon MTV itu juga menjadi lebih mengerti Islam setelah membintangi AAC.

“Poin saya, makin banyak orang baca dan nonton, berarti makin bagus. Lebih bagus lagi, jika bacaan dan tontonan kita kian beragam,” komentar kritikus sastra Nirwan Arsuka.

detikcom 19/03/2008 15:37

→ No CommentsCategories: film

Fenomena AAC(2)Kontroversi Dongeng Cinta Fahri

June 10, 2008 · No Comments

Seorang perempuan cantik asyik bercakap dengan seorang pria di sebuah kereta. Tangan si perempuan terangkat ke atas menggenggam pegangan agar tidak jatuh. Di tangan yang terangkat itu terlihatlah gambar salib.

Dialah Maria Girgis, perempuan Kristen koptik yang menjadi salah satu tokoh utama film Ayat Ayat Cinta (AAC). Meski Kristen, Maria sangat mengagumi Alqur’an. Ia bahkan hafal surat Maryam. “Aku sungguh suka Alquran. Aku hafal surat Maryam. Wallahi Fahri,” kata Maria kenes pada si pria di sebelahnya, Fahri.

Lantas di hadapan Fahri, tokoh utama pria di AAC, Maria dengan gestur tubuh yang kemayu, melafalkan surat Maryam. Fahri, mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir pun terpesona. Ia belum tahu, Maria yang merupakan tetangga satu flat dengannya itu jatuh cinta padanya dan berusaha melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan rasa cintanya.

Kisah selanjutnya Maria yang kemudian menjadi istri kedua Fahri masuk Islam. Sebelum meninggal, ia meminta sang suami dan Aisha, istri pertama Fahri, untuk salat berjamaah. Adegan ini berbeda dari novelnya yang menceritakan Maria masuk Islam setelah bermimpi kesulitan masuk surga. Dalam mimpinya, ia bisa masuk surga bila mempunyai kunci untuk membuka pintu surga. Menurut Bunda Maria yang menemuinya, kunci itu adalah membaca dua kalimat syahadat yang meruapakan pertanda seseorang masuk Islam. Di novelnya, selain Maria, ada Alicia, wartawan Amerika, yang kemudian juga masuk Islam.

Kisah masuk Islam ini kemudian menerbitkan kontroversi yang mengiringi sukses film AAC. Beberapa kalangan berpendapat, AAC merupakan hegemoni kelompok Islam tentang agama yang benar. Mereka memprotes tentang diskriminasi dan toleransi beragama. Di milis-milis, misalnya di milis mediacare, ada yang menuliskan pengandaian bila film berkisah sebaliknya, orang Islam masuk agama lain, pasti kelompok garis keras Islam akan menyerang pembuatan film tersebut.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan menilai tudingan itu berlebihan. Baginya, merupakan hal yang sah, bila Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, ada film yang mengisahkan orang masuk Islam. Melihat kondisi Maria, yang tengah sakit dan sudah lama mengagumi Alquran, sangat wajar jika perempuan Kristen koptik itu lantas pindah agama dan mengikuti agama pria yang dicintainya.

“Biasalah orang yang sedang sakit lalu ingat Tuhan, di situ kan tidak ada pemaksaannya ia pindah agama. Jadi tidak perlulah didistorsi dan dilebih-lebihkan,” kata Amidhan kepada detikcom.

Ayu Utami, sastrawan yang beragama Katolik juga menganggap polemik soal pindah agamanya Maria dalam AAC tidak perlu. Dalam kehidupan sehari-hari, soal pindah agama sudah merupakan hal biasa dan motifnya bisa macam-macam, bisa hanya karena kawin atau terancam maut. “Kita harus pandai memisahkan antara persoalan agama dengan sosial. Kalau soal kelompok keras Islam menyerang bila ada film orang Islam masuk agama lain itu masalah sosial budaya, bukan soal agama. Di mana-mana kelompok mayoritas, baik Islam atau Kristen, akan cenderung melakukan tindakan yang tidak benar dengan dalil membela agamanya,” ulas penulis novel fenomenal “Saman” itu saat berbincang dengan detikcom.

Selain masalah pindah agama, film AAC juga menimbulkan kontroversi tentang kampanye poligami. Di film itu dikisahkan, Aisha, istri pertama Fahri meminta sang suami menikahi Maria yang sakit keras. Maria perlu disembuhkan karena dialah saksi kunci yang bisa membebaskan Fahri yang saat itu disidang dengan tudingan kasus perkosaan terhadap Noura. Selain Aisha, juga ada Nurul, perempuan yang jatuh cinta pada Fahri, yang juga bersedia dipoligami Fahri yang sudah menikah.

Kisah itu mengesankan bahwa poligami bukanlah kehendak laki-laki, tapi justru keinginan para perempuan. Wacana poligami di AAC dikritik terlalu menyederhanakan masalah. Karena pada realitasnya, mayoritas perempuan tidak ada yang mau dipoligami. “Kesannya jadi melegalkan poligami sebagai salah satu jalan keluar untuk mengangkat penderitaan perempuan. Saya pikir itu terlalu sederhana sekali,” kritik Jaleswari Pramodhawardani, peneliti LIPI soal gender.

Ayu Utami justru menilai AAC pengecut dalam mewacanakan poligami. AAC berani mengangkat tema sensitif ini tapi kemudian buru-buru berkompromi dengan mematikan tokoh istri kedua. “Ia tidak berani ke titik ekstrim, dia hanya kembali ke titik yang happy ending,” kritik Ayu.

Bila membandingkan dengan novelnya, cerita poligami di film AAC justru lebih berani. Meski tidak setajam film Berbagi Suami garapan Nia Dinata, AAC selain menawarkan solusi masalah dengan poligami, juga memberikan kritik atas poligami itu sendiri. Aisha misalnya meski dialah yang meminta Fahri menikahi Maria, ia digambarkan tidak bisa ikhlas dengan poligami itu. Ia memilih pergi ke rumah pamannya untuk menentramkan diri setelah tidak tahan mengalami dilema batin saat hidup serumah dengan madunya.

Sementara Maria, sebagai istri kedua, akhirnya menyadari kebodohannya dengan kehidupan poligaminya. Sebelum meninggal, dengan darah menetes dari hidungnya, Maria meminta maaf pada Fahri dan Aisha. “Aku minta maaf bukan karena kesalahanku, tapi kebodohanku. Sekarang aku tahu antara cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama,” kata Maria di saat-saat akhir hidupnya.

Kontroversi lain dari film AAC adalah pernyataan seorang ulama yang menyatakan film besutan Hanung Bramantyo ini lebih berbahaya daripada film maksiat. Sang ulama berpendapat, hukum menonton film pada dasarnya adalah haram. Apapun alasannya, menonton film akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Misalnya ada yang sampai melupakan salat gara-gara menonton atau mengantre AAC. Ada pula yang berbuat maksiat di gedung bioskop karena tempatnya yang gelap.

Soal kontroversi haram menonton AAC ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan tidak sependapat. “Bukan menontonnya yang diharamkan. Tapi perbuatan maksiatnya, itulah yang haram. Lagi pula ini kan film dakwah, banyak segi positifnya yang bisa diambil,” papar Amidhan kepada detikcom.

Menurut Amidhan, di zaman serba canggih, tidak ada salahnya umat Islam memanfaatkan modernitas untuk berdakwah. Film menjadi alternatif yang menarik, karena penyampaian dakwah bisa lebih tertangkap oleh audience.

detikcom 18/03/2008 12:03

→ No CommentsCategories: film

Fenomena AAC (1) Kisah Fahri Hipnotis Jutaan Orang

June 10, 2008 · No Comments

Antrean telah mengular di depan pintu bioskop 21 Cinere Mall. Tidak hanya pasangan anak baru gede (ABG) yang mengantre. Ibu-ibu paruh baya, sebagian berjilbab, bahkan ada nenek-nenek sampai anak-anak SD pun ikut berdesak-desakan. Padahal hari masih pagi, belum pukul 10.00 WIB. Penjualan tiket bioskop pun baru akan buka pukul 10.30 WIB.

Seorang polisi berjaga di balik pintu bioskop. Meski pintu dibuka, pengunjung tidak boleh masuk. Ketika akhirnya loket dibuka dan diperbolehkan masuk, para pengantre langsung berlarian menyerbu loket. Antre panjang lagi dan berdesak-desakan lagi.

Semua orang itu rela antre dan berdesak-desakan, hanya untuk mendapatkan tiket film Ayat Ayat Cinta (AAC). Padahal hari itu, Minggu, 16 Maret 2008, pemutaran Ayat-Ayat Cinta telah memasuki minggu keempat sejak pertama diputar pada 21 Februari 2008.

Di Cinere mall, film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy ini diputar di dua studio. Meski demikian penonton tetap harus antre panjang. Mereka yang datang siang sedikit harus rela antre untuk membeli tiket nonton malam. Tidak sedikit pula yang harus membeli tiket untuk nonton keesokan harinya.

Pemandangan tidak jauh berbeda juga terlihat di semua bioskop yang memutar AAC. Untuk Jakarta dan sekitarnya, film ini diputar di 45 bioskop dan selalu dibanjiri penonton. Saking membludaknya penonton, rata-rata bioskop tidak hanya menyediakan satu studio untuk AAC. Pondok Indah Mall 21 contohnya, selama berminggu-minggu memutar film ini di tiga studionya. Setiabudi One 21 malah lebih dahsyat lagi. Dari empat studio, hanya satu studio yang tidak menayangkan AAC.

ACC berkisah tentang pergolakan seorang laki-laki yang dicintai empat perempuan. Sekilas film ini mengingatkan pada film Catatan Si Boy yang populer pada era 1980-an. Kedua tokoh film ini, Si Boy (Ongky Alexander) dan Fahri bin Abdullah (Fedi Nuril) digambarkan sebagai pemuda yang teguh agamanya, digambarkan dengan berkali-kali salat, dan digandrungi cewek-cewek. Bedanya, Si Boy bergaya metropolis dan kuliah di Amerika, sementara Fahri, seorang santri yang kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir.

Tersebutlah, Fahri (diperankan kurang meyakinkan oleh Fedi Nuril) seorang pemuda yang miskin, orang tuanya harus menjual sawah untuk biaya kuliah di Al Azhar. Saat kuliah di Mesir ini, empat perempuan cantik jatuh cinta pada Fahri. Ada Maria Girgis (diperankan dengan cemerlang oleh Carrisa Putri), perempuan Kristen koptik, tetangga satu flat dengan Fahri.

Lalu Nurul (Melani Putria), anak seorang kiai terkenal di Jawa Timur yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Noura (Zaskia Adya Mecca), tetangga Fahri yang selalu disiksa orang ayahnya. Dan Aisha (Rianti Cartwright), perempuan bercadar keturunan Turki yang kaya raya. Kisah cinta dengan empat perempuan ini selanjutnya mengubah total kehidupan Fahri yang sederhana.

Jauh sebelum filmnya diluncurkan, para pecinta novel AAC telah ramai memperbincangkannya begitu ada berita novel laris itu akan difilmkan. Seperti mengikuti sukses novelnya, film ini juga menjadi pembicaraan di mana-mana. Di kantor-kantor, di kantin, di angkot sampai di tempat pengajian dan arisan, orang ramai membahasnya. Perbincangan dari mulut ke mulut ini rupanya sangat efektif membantu film ini menjadi laris manis. Akhirnya tidak dinyana, AAC meledak meskipun para kritikus film menganggapnya sebagai film biasa dan tidak ada yang memuji atau merekomendasikan untuk menontonnya.

Boleh dikata ACC adalah film paling fenomenal tahun ini. Film ini mengalahkan Ada Apa dengan Cinta (AADC) dalam hal kecepatan mengumpulkan jumlah penonton. AADC ditonton 4 juta penonton dalam tempo 4 bulan. AAC, hanya butuh waktu kurang dari satu bulan, untuk ditonton lebih dari 2 juta orang.

Manoj Punjabi, produser Ayat Ayat Cinta optimis jumlah penonton film ini akan mencapai 7 juta orang. “Sekarang sudah 2,6 juta yang nonton,” kata Manoj Punjabi, saat dihubungi detikcom pada Senin, 17 Maret 2008.

Menariknya, penonton AAC bukan saja berasal dari kalangan yang akrab dengan bioskop. Di tengah serbuan film bertemakan hantu dan sensualitas, AAC menjadi film paling aman untuk ditonton ‘orang baik-baik’. Dengan film ini, para pria yang mempunyai pacar atau istri perempuan berkerudung misalnya, tidak akan merasa sungkan untuk mengajak kekasihnya nonton.

Tidak aneh pula jika orang-orang yang selama ini ‘alergi’ dengan bioskop pun seperti tersihir untuk menyaksikan film ini. Contohnya para pria yang mengenakan jubah dan surban bersama perempuan berbaju muslim longgar dan jilbab yang besar tampak keluar dari bioskop dari Pondok Indal Mall 21. Ada pula rombongan ibu-ibu pengajian dengan seragamnya, lengkap dengan baju dan kerudung dengan warna yang sama ikut memadati bioskop.

Lalu nenek-nenek yang sudah sangat lama absen dari nonton film pun tergerak hatinya untuk menyambangi bioskop. “Saya sudah 20 tahun tidak datang ke bioskop, terakhir saya nonton film Benyamin. Tapi kata anak saya ini film bagus, ini film dakwah, makanya saya mau ke bioskop,” kata Ibu Khusnul, saat menunggu film AAC di bioskop Cinere Mall 21.

Nenek empat cucu yang telah menyiapkan tisu karena mendengar cerita AAC membuat orang menangis ini, datang ke bioskop bersama putri sulungnya. Demi menonton film ini, Riani, putri Ibu Khusnul, rela meninggalkan anak-anaknya yang masih balita di rumah. Suami Riani ketiban tugas menjaga anak-anaknya sementara.

Selain kalangan usia lanjut, anak-anak belia seperti siswa SD juga terpikat film ini. “Saya kelas lima SD. Kata kakak saya film ini bagus, saya penasaran,” kata Deni yang ikut mengantre tiket. Deni membelikan tiket untuk lima teman lainnya.

Para politisi dan pesohor negeri ini pun tidak ketinggalan menonton AAC. Ada Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang melakukan nonton bareng di studio 2 Bioskop 21 Plaza Senayan dengan politisi lainnya seperti Wakil Ketua MPR AM Fatwa, anggota DPR dari FPKS Fahri Hamzah dan Ketua Umum Partai Matahari Bangsa (PMB) Imam Addaruquthni. Presiden SBY disebut-sebut juga akan menonton AAC.

Lalu mantan Presiden Habibie bersama istrinya, Ny Ainun yang datang dari Jerman pun menyempatkan diri menontonnya. Menurut Habibie, AAC yang mengupas soal poligami layak tonton sebab memperlihatkan wajah Islam adalah toleransi. “Dialognya sangat menyentuh hingga saya, orang tua ini keluar air mata,” aku Habibie.

Dibandingkan novelnya, film AAC yang menurut Manoj Punjabi menggabungkan gaya Hollywood dan Bollywood ini, memang lebih mengekploitasi sisi romantisme sehingga bisa membuat orang menangis. Keteladanan karakter Fahri yang disorot dalam novelnya jadi berkurang. Film lebih banyak mengupas poligami Fahri yang konfliknya mengharubirukan perasaan.

Ahmadun Yossi Herfanda, sastrawan yang pertama mempublikasikan novel AC sebagai cerita bersambung di Republika, agak kecewa dengan perbedaan tafsir film dari novelnya. Tapi ia mengaku bisa memahami film yang memakai logika dunia hiburan. “Ternyata masyarakat kita masih menyukai tontonan romantis yang menguras air mata,” kata Ahmadun.

:detikcom 18/03/2008 09:35

→ No CommentsCategories: film

Hantu Makan di Malaysia

May 14, 2008 · No Comments

Setelah berputar-putar mengunjungi sejumlah obyek wisata di Langkawi, Malaysia, akhirnya kami mampir di sebuah restoran di pinggir jalan. Namanya restoran Nelayan, berdiri di Jalan Bukit Malut, Langkawi.

Meski namanya restoran, jangan bayangkan tempat itu merupakan sebuah restoran besar nan mewah seperti umumnya restoran di Jakarta. Tampilan restoran Nelayan hampir mirip sebuah warung Tegal (warteg) atau kafe tenda di pinggiran jalan di Jakarta.

Namun bedanya, jika warteg dan kafe tenda Jakarta, bising oleh lalu lalang lalu lintas dan asap kendaraan bermotor, Restoran Nelayan sungguh berbeda. Udaranya sejuk, sebab ada sebuah hutan kecil di samping restoran. Sambil makan, pengunjung pun bisa melihat sejumlah kera bermain-main di ranting pohon.

Menu yang disajikan di restoran ini, sesuai namanya, adalah masakan seafood, aneka ikan, cumi-cumi dan lalapan. Pengunjung bisa memilih sendiri menu yang akan dimasak. Kami meminta ikan untuk dibakar, sementara cumi-cumi digoreng.

Saat disajikan, aroma ikan bakar sungguh menggoda. Lalapan dari daun jambu mede, timun dan selada sudah kami siapkan di meja. Dan tidak lupa sambalnya, yang wow pedasnya sungguh berasa.Kami, empat wartawan dari Indonesia dan dua peneliti ISIS Malaysia, Ibu Wan Portia Hamzah dan Ibu Zainab dengan bersemangat langsung menyantap hidangan tersebut. Makan di restoran Nelayan seolah menebus keluhan kami yang belum menemukan makanan yang ‘nendang’ selama empat hari berada di Kuala Lumpur.

Di Malaysia, Restoran Nelayan, meski kecil dan sederhana, cukup di kenal namanya. Sejumlah menteri Malaysia yang datang ke Langkawi, banyak yang sudah mencicipi makanan olahan Bapak Abdul Rasyid Hasyim ini.

Soal rasa, menurut saya sih, hampir sama dengan masakan seafood yang tersebar di sejumlah pinggir jalan di Jakarta. Tapi tempatnya yang sungguh berbeda dengan pemandangan alami hutan lengkap dengan kera-kera berlompatan, sungguh menimbulkan atmosfir yang berbeda . Maka jangan heran jika di Restoran Nelayan, kami pun jadi “hantu makan”. Ini sebutan orang Malaysia untuk seseorang yang sangat suka makan.

detikcom, 23 Februari 2008

→ No CommentsCategories: jalan-jalan